Contoh Variable : Marketing Execution Effectiveness Dari Produk pemimpin Pasar
Angka Merah di Layar Komputer
Pukul empat sore, Rianti masih duduk di depan
komputer kantornya. Di layar, sebuah laporan penjualan menampilkan angka-angka
yang membuatnya ingin memejamkan mata sedikit lebih lama, kalau dulu tugas
kuliah mencari buku panduan kalau di dunia kerja harus berpikir tigaratus
delapan puluh derajat di mana letak masalahnya, setelah ia meriview produk by
katagory ternyata : Target penjualan susu UHT bulan itu belum tercapai. Stok di
gudang masih menumpuk. Sementara itu, beberapa karton produk yang datang lebih
dahulu mulai mendekati batas tanggal kedaluwarsa.
Rianti menghela napas.
Sebagai seorang
sales supervisor di perusahaan FMCG, ia sudah terbiasa menghadapi target.
Baginya, target adalah bagian dari pekerjaan. Namun, menghadapi target yang
belum tercapai ketika stok mulai menua merupakan persoalan yang berbeda. Ada
dua jam yang sedang berdetak bersamaan di kepalanya. Jam pertama adalah
kalender penjualan. Akhir Bulan hampir closing dan jam kedua adalah tanggal
kedaluwarsa produk. Keduanya sama-sama tidak mau menunggu.
"Bu Rianti, laporan stoknya sudah
saya kirim lewat email," kata seorang staf dari meja sebelah. Ia mengangguk.
"Terima kasih. Yang mendekati expired sudah
dipisahkan?"
"Sudah, Bu. Sudah kami tandai berdasarkan
tanggalnya."
"Bagus. Jangan
sampai barang yang lebih lama malah tertutup barang baru. Kita harus tahu
persis stok mana yang perlu diprioritaskan."
Staf itu mengangguk, kemudian kembali
ke mejanya.
Rianti membuka laporan penjualan per wilayah. Ada
beberapa toko yang masih mempunyai potensi, tetapi pemesanan mereka tidak
sesuai harapan. Ada pula wilayah yang penjualannya
turun meskipun jumlah kunjungan salesman relatif tinggi. Ia mengernyit ada
perkiraan aneh di pikirannya, Kunjungan ada. Salesman ada. Produk ada. Program penjualan juga ada.
Lalu, apa yang
sebenarnya kurang?
Pikirannya melayang ke sebuah kalimat
yang pernah didengarnya dalam pelatihan manajemen penjualan: Being busy is
not the same as being productive. Sibuk tidak selalu berarti produktif. Bibirnya tersenyum tipis.
Kalimat itu terdengar sederhana ketika diucapkan
seorang trainer di ruang berpendingin udara. Namun, ketika stok menumpuk dan
target belum tercapai, kalimat yang sama terasa seperti sindiran yang sangat
personal. Ia membuka laporan distribusi pesaing. Di wilayah yang sama, produk
susu dari market leader seolah-olah selalu tersedia. Produk itu ada di
minimarket, toko kelontong, kantin, warung dekat sekolah, hingga kios di jalur
perjalanan antarkota.
Rianti memandangi daftar outlet
tersebut, "Ini orang jualan pakai ilmu apa, sih?" gumamnya. Ia me-whataaps
salesman Yanto.
Tiba-tiba dari belakang, terdengar suara Yanto, "Pakainya mobil,
Bu."
Rianti menoleh. Ada Yanto
salesman kanvas yang sudah cukup lama bekerja di wilayah tersebut. Ia mempunyai
kebiasaan menjawab pertanyaan serius dengan kalimat yang membuat orang harus
memutuskan apakah akan tertawa atau menegurnya, tingkah dan wajah lucu untuk
lulusan SMA.
Rianti mengangkat alis."Maksudnya?"
"Kalau pakai
sepeda, barangnya tidak muat, Bu. Apalagi kalau susunya satu mobil."
Rianti menggeleng sambil tertawa kecil,
"Yanto, saya sedang membicarakan strategi distribusi, bukan kapasitas
bagasi."
"Siap, Bu. Saya kira Ibu sedang bertanya kenapa produk pesaing ada di
mana-mana."
"Memang itu pertanyaan
saya."
Yanto menggaruk kepalanya.
"Kalau menurut saya, Bu, mungkin
mereka rajin datang."
"Salesman kita juga rajin
datang." Jawab Rianti
"Kalau begitu, mungkin mereka
datang pada waktu yang tepat."
Rianti terdiam.
Yanto sendiri tampak tidak menyadari
bahwa kalimatnya baru saja membuat atasannya berhenti mengetik.
"Waktu yang tepat?" ulang
Rianti.
"Iya, Bu.
Kadang-kadang saya datang ke toko, pemiliknya bilang belum ada uang. Besoknya
saya datang lagi, dia malah belanja banyak. Padahal tokonya sama, orangnya
sama, dan susu kita juga sama."
Rianti menatap Yanto beberapa detik, "Besok
kamu ikut saya ke lapangan."
Yanto mengangkat wajah. "Ke mana,
Bu?"
"Ke tempat yang belum pernah kita
garap dengan serius." Jawab Rianti
"Pasar?"
"Bukan."
"Perumahan?"
"Bukan."
"Kalau bukan pasar dan bukan
perumahan, jangan-jangan kita mau jualan ke planet lain, Bu?"
Rianti menutup laptopnya.
"Rest area."
Yanto terdiam. Lalu ia tersenyum, "wah, kalau ke
rest area, saya setuju, Bu."
"Kenapa?", Rianti balik
bertanya
"Karena kalau di kantor, saya
yang ditanya target. Kalau di rest area, setidaknya saya bisa ditanya arah
toilet."
Rianti tertawa.
Untuk pertama
kalinya sore itu, angka-angka merah di layar komputer terasa sedikit kurang
menakutkan. Namun, ia belum tahu bahwa kunjungan ke rest area keesokan harinya
akan mengubah cara pandangnya terhadap pekerjaan sebagai supervisor.
2. Produk yang Tidak Bisa Menunggu
Sebelum meninggalkan
kantor, Rianti kembali memeriksa laporan stok. Susu UHT memang mempunyai
keunggulan dibandingkan susu yang memerlukan penyimpanan dingin sebelum dibuka,
tetapi bukan berarti produk tersebut bisa disimpan selamanya. Tanggal
kedaluwarsa tetap harus diperhatikan.
Kemasan harus utuh.
Penyimpanan harus sesuai ketentuan produsen. Barang harus diputar dengan benar.
Dan setiap outlet perlu mendapatkan jumlah produk yang sesuai dengan potensi
penjualannya. Rianti pernah melihat sendiri bagaimana stok yang tidak
terkontrol berubah menjadi persoalan keuangan.
Bayangkan sebuah
distributor mempunyai seratus karton susu UHT yang belum terjual.
Jika harga pokok setiap karton
diasumsikan Rp300.000, nilai persediaannya mencapai Rp30 juta.
Angka itu belum
tentu menjadi kerugian. Selama barang masih layak jual dan terjual pada
waktunya, persediaan merupakan bagian normal dari kegiatan usaha. Masalah
muncul ketika barang tidak bergerak, tanggal kedaluwarsa mendekat, dan
perusahaan tidak lagi mempunyai cukup waktu untuk menjualnya secara normal. Jika
dua puluh karton akhirnya tidak bisa dijual dan harus dihapuskan, potensi
kerugian berdasarkan asumsi harga pokok tersebut mencapai Rp6 juta. Itu belum
terhitung biaya penyimpanan, penanganan, transportasi, dan kemungkinan biaya
pemusnahan.
Jika stok bermasalah
itu merupakan produk konsinyasi, retur yang diperbolehkan kontrak, atau barang
milik prinsipal dengan skema berbeda, dampak keuangannya tentu bergantung pada
perjanjian antara para pihak. Berapa persen nilai return yang bisa di calim distributor?
Rianti memahami bahwa angka-angka itu bukan sekadar
persoalan gudang. Persediaan yang terlalu lama tertahan juga mengikat modal
kerja. Uang yang seharusnya dapat digunakan untuk membiayai aktivitas penjualan
justru tertahan dalam produk yang belum bergerak. Karena itu, ia tidak ingin
menyelesaikan masalah stok dengan cara sembarangan.
Ia tidak akan
memaksa warung membeli terlalu banyak susu hanya agar angka penjualan
bulanannya terlihat bagus. Ia juga tidak akan menyuruh Yanto menjejalkan karton
ke toko yang tidak mempunyai permintaan memadai apalagi yang keuangannya sudah
dibelikan produk lain.
Penjualan yang
terjadi hari ini tetapi berakhir menjadi stok mati di outlet hanya memindahkan
masalah dari gudang distributor ke gudang pelanggan. Itu bukan kemenangan.
Itu sekadar memindahkan lokasi
persoalan.
"Yanto," katanya sebelum
pulang, "besok kita tidak hanya mengejar order."
Yanto mengangguk.
"Kita cari outlet yang benar-benar punya
potensi. Kita lihat kebutuhannya, kemampuan belanjanya, stok yang masih ada,
dan waktu yang tepat untuk menawarkan produk."
"Siap, Bu."
"Kalau stoknya masih banyak,
jangan dipaksa."
"Siap."
"Kalau tanggal kedaluwarsanya
sudah terlalu dekat untuk dijual secara normal, jangan ditutupi dengan program
penjualan."
"Siap, Bu."
Rianti memandangnya. "Kamu
mengerti atau hanya sedang mengumpulkan kata siap?"
Yanto tersenyum.
"Jujur saja, Bu, tadi yang ketiga
saya masih belajar."
Rianti tertawa.
"Besok belajar sambil
jalan."
Market Leader yang Seolah-olah Tidak Pernah Kehabisan Barang
Malam itu, Rianti membuka kembali catatan kuliahnya.
Ia masih ingat materi tentang Route to Market, distribusi, produktivitas
tenaga penjualan, dan implementasi strategi pemasaran. Ia harus diskusi dengan teman atau teman kantor yang pernah di posisi
Route to Market.
Dalam industri FMCG, keberhasilan tidak hanya
ditentukan oleh seberapa bagus produk yang dijual. Produk yang bagus tetap bisa
kalah di outlet apabila tidak tersedia pada saat konsumen membutuhkannya.
Rianti mencoba memahami keunggulan
market leader di wilayahnya. Pertanyaan ini harus curat coret dijawab dulu :
Apakah mereka mempunyai armada lebih
banyak?
Apakah jumlah salesman mereka lebih
besar?
Apakah harga mereka lebih menarik?
Atau mereka mempunyai hubungan yang
lebih kuat dengan para pemilik toko?
Semua kemungkinan itu masuk akal. Namun,
ada satu hal yang menarik perhatiannya.
Produk pesaing tersebut seolah-olah
selalu hadir di berbagai titik penjualan.
Ia mulai memikirkan konsep availability.
Dalam pemasaran
FMCG, ketersediaan produk bukan hanya perkara apakah barang pernah dikirim ke
sebuah toko. Produk harus tersedia ketika konsumen ingin membelinya. Untuk
mencapai kondisi itu, perusahaan perlu memperhatikan cakupan distribusi,
frekuensi pemesanan, kecepatan pengisian kembali stok, dan pola permintaan.
Rianti membuka peta
wilayah. Toko-toko yang sudah rutin dikunjungi Yanto terlihat cukup banyak. Namun,
di antara jalur distribusi tersebut, ada satu wilayah yang belum digarap secara
serius: deretan toko dan kios di rest area jalan tol. Ia memperbesar peta.
"Selama ini kita sibuk mendatangi toko yang
sama," gumamnya. "Jangan-jangan ada kesempatan yang kita
lewatkan."
Ia kemudian mengingat konsep occasion-based
marketing, yaitu memahami kebutuhan konsumen berdasarkan situasi atau
kesempatan ketika mereka membutuhkan produk. Orang yang berada di perjalanan
mempunyai situasi konsumsi yang berbeda dari orang yang sedang berbelanja
bulanan di supermarket. Mereka mungkin membutuhkan minuman untuk perjalanan,
makanan ringan, atau produk yang mudah dikonsumsi tanpa persiapan rumit.
Susu UHT berukuran praktis bisa menjadi salah satu
pilihan. Tetapi Rianti tahu, kebutuhan itu tidak otomatis menjamin penjualan. Konsumen
tetap mempertimbangkan harga, rasa, kebiasaan, merek, pilihan produk, dan
alasan mereka berhenti di tempat tersebut.
Karena itulah ia ingin melihat langsung. Bukan menebak-nebak dari kursi
kantor.
Ia menuliskan satu kalimat di buku catatannya:
"Kalau produk
kita belum tumbuh, jangan hanya bertanya berapa kali salesman datang. Tanyakan
juga ke mana, kapan, dan bagaimana proses produk itu diambil?"
Di bawahnya, ia menambahkan:
Marketing Execution
Effectiveness.
Ia belum tahu bahwa
keesokan harinya, konsep itu akan mendapat ujian yang jauh lebih nyata daripada
soal pilihan ganda dalam ujian kuliah.
Pukul Dua Siang: Semua toko Sudah Belanja di online atau di salesman?
Keesokan harinya,
Rianti dan Yanto berangkat menuju rest area dengan mobil kanvas perusahaan. Di bagian belakang mobil tersusun karton susu UHT.
Rianti membawa daftar harga, data stok, dan catatan
outlet. Yanto membawa alat tulis, dokumen penjualan, serta keyakinan bahwa
perjalanan itu akan menghasilkan sesuatu. Setidaknya, menurutnya, mereka bisa
makan siang. Perjalanan berjalan lancar sampai mereka tiba di rest area yang
dituju.
Di sana terdapat sejumlah toko
makanan, kios minuman, warung, dan tempat berbelanja kebutuhan perjalanan. Rianti turun dari mobil dan mengamati keadaan.
"Tempatnya ramai," katanya.
Yanto mengangguk.
"Benar, Bu. Banyak orang
lewat."
"Yang membeli produk kita belum
tentu banyak."
"Betul, Bu."
"Yang punya potensi memesan juga
belum tentu banyak."
Yanto mengangguk lagi.
Rianti tersenyum.
"Bagus. Ternyata kamu bisa menjawab tanpa bercanda."
"Saya sedang menghemat tenaga,
Bu. Nanti kalau tidak laku, saya harus mendorong mobil."
Mereka mulai mendatangi toko satu per satu. Yanto memperkenalkan
produk dan menawarkan susu UHT.
Beberapa pemilik toko menyambut dengan
ramah, tetapi jawabannya hampir sama. Toko menjawab dengan berbagai jawaban :
"Maaf, Mas. Sekarang belum
bisa."
"Stok masih ada."
"Barang lain juga baru
datang."
"Uangnya sudah dipakai
belanja."
Rianti memperhatikan
setiap percakapan. Pada toko pertama, pemiliknya masih mempunyai beberapa
karton susu dari berbagai merek. Di toko kedua, persediaan minuman cukup
banyak, tetapi pemiliknya sedang memprioritaskan produk yang paling cepat
berputar.
Di toko ketiga,
pemiliknya berkata bahwa uang belanja sudah habis untuk membeli barang yang
dipesan pada pagi hari. Yanto mencoba menawarkan jumlah yang lebih kecil.
"Kalau satu karton dulu,
Pak?"
Pemilik toko menggeleng.
"Kalau saya beli sekarang, besok
saya tidak punya uang untuk barang yang lebih penting."
Yanto menutup daftar pesanan.
"Baik, Pak. Tidak apa-apa. Terima kasih." Wajah Yanto gugup
diperhatikan Rianti.
Setelah keluar dari toko, ia menatap Rianti, "Bu, barangnya tidak
ditolak karena produknya jelek."
"Belum tentu," jawab Rianti. "Kita juga belum bisa
menyimpulkan semua pemilik toko menyukai produk kita."
"Benar juga."
"Tapi ada satu masalah yang mulai terlihat." Rianti berbicara
seperti memberikan teka-teki.
Yanto berpikir.
"Uang?"
Rianti mengangguk.
"Uang belanja mereka sudah dialokasikan." Wajah Rianti meyakinkan
sekarang ia tau jawabannya.
Mereka melanjutkan kunjungan sampai
sore namun Hasilnya mengecewakan. Tidak ada pesanan berarti.Pukul dua siang,
mereka kembali berbicara dengan seorang pemilik kios yang sudah lama berdagang
di rest area tersebut.
Namanya Pak Darto. Pak Darto sedang
merapikan beberapa dus minuman ketika Yanto menyapanya.
"Pak, kami menawarkan susu UHT.
Kalau ada kebutuhan, kami siap mengirim."
Pak Darto tertawa kecil."Mas,
kalau datangnya sekarang, saya sudah tidak punya uang belanja."
"Memangnya uangnya habis untuk
apa, Pak?" tanya Yanto.
"Ya untuk belanja, Mas." Pak
Darto sambil mengangkut barang yang baru datang.
Yanto mengangguk, "Kalau uangnya
habis untuk belanja, berarti Bapak sudah belanja?"
Pak Darto berhenti merapikan dus yang baru di angkutnya. Ia menatap Yanto.
Lalu menoleh kepada Rianti.
"Bu, salesman Ibu ini pintar sekali. Baru kali ini saya menemukan
orang yang bisa menjelaskan bahwa uang habis setelah dipakai."
Rianti menutup mulutnya menahan tawa. Yanto ikut tertawa.
"Maaf, Pak. Saya sedang
memastikan diagnosis."
"Diagnosis apa?"
"Diagnosis keuangan warung."
Pak Darto menggeleng sambil tersenyum.
"Begini, Mas. Biasanya kami
mengumpulkan uang dulu untuk belanja barang dagangan. Ada waktunya. Kalau
barang utama sudah dibeli, uang yang tersisa dipakai untuk kebutuhan lain.
Kalau Mas datang setelah uangnya habis, ya saya tidak bisa memaksakan diri
membeli. Apakah ,mau ngasih kredit? Sampean juga ditarget outlet kredit juga
kan? Jangan banyak outlet kredit?"
Rianti langsung memperhatikan kalimat
terakhir."Ada waktu tertentu untuk belanja bersama Pak?"
Pak Darto mengangguk. "Ada.
Banyak toko di sini mengatur belanja berdasarkan jadwal penerimaan uang dan
kedatangan pemasok. Tidak semuanya
sama, tetapi ada pola yang bisa dilihat. Kalau mau tahu, coba datang besok
pagi."
"Jam berapa, Pak?" tanya
Rianti.
"Kalau saya, sekitar jam delapan
lewat. Besok biasanya
saya mulai menyiapkan belanja lagi."
Rianti mencatatnya. "Apakah toko lain juga begitu?"
"Sebagian. Ibu bisa tanya sendiri. Jangan hanya percaya kepada
saya."
Rianti tersenyum.
"Baik, Pak. Terima kasih
banyak."
Ketika berjalan kembali menuju mobil,
ia melihat jam tangannya.
Pukul 14.17. Mereka sudah menghabiskan
hampir setengah hari untuk menemukan sesuatu yang tidak tertulis dalam laporan
penjualan mana pun. Bukan jumlah outlet.Bukan jumlah salesman. Bukan pula
jumlah karton di gudang. Mereka menemukan sebuah pola waktu. Dan mungkin, di
situlah letak persoalannya.
Uang yang Habis Sebelum Salesman Datang
Dalam perjalanan pulang, Rianti meminta Yanto
berhenti sejenak di tempat yang aman untuk mereka berbicara dan mencatat hasil
kunjungan.
"Yanto, coba ceritakan lagi apa yang dikatakan Pak Darto."
Yanto berpikir sejenak.
"Pemilik toko mempunyai jadwal belanja. Kalau kita datang setelah
uangnya dipakai, produk kita bisa tidak terbeli meskipun mereka sebenarnya
membutuhkan."
"Bagus."
"Jadi besok kita datang lebih pagi."
"Jam berapa?"
"Jam tujuh?"
Rianti menggeleng.
"Pak Darto bilang sekitar pukul delapan lewat. Kita harus memastikan
waktunya, bukan asal lebih pagi."
Yanto mengangguk.
Rianti membuka catatan.
"Selama ini kita mungkin terlalu
fokus pada call frequency, yaitu seberapa sering salesman mengunjungi
outlet. Padahal, kita belum cukup memahami purchase timing, waktu ketika
outlet benar-benar siap melakukan pembelian."
Yanto memandangnya, lalu gatal juga
mulutnya bertanya, "Kalau begitu, Bu, selama ini saya bisa saja rajin
datang, tetapi datang pada saat yang salah."
"Betul."
"Seperti orang melamar kerja
ketika kantornya sedang tutup?"
"Kurang lebih."
"Atau seperti saya datang ke
rumah calon mertua ketika mereka sedang pindahan?"
Rianti tertawa.
"Kenapa calon mertua?"
"Karena kalau saya datang pada waktu yang salah, saya bisa kehilangan
kesempatan."
Rianti menggeleng. "Yanto, kita sedang membicarakan susu UHT."
"Justru itu, Bu. Susu UHT saja
punya waktu yang tepat. Masa saya tidak?"
Rianti tertawa cukup keras sampai
harus berhenti berbicara beberapa detik.
Setelah tawanya
reda, ia kembali serius, "besok kita akan mencoba satu hal. Kita tidak
hanya menawarkan produk. Kita mengamati bagaimana outlet mengalokasikan
anggaran belanjanya."
Ia menjelaskan bahwa
setiap toko mempunyai keterbatasan modal kerja. Pemilik toko tidak dapat
membeli semua produk dalam jumlah tidak terbatas. Ia harus membagi uangnya
untuk berbagai merek, kategori, dan pemasok. Ada beras, air mineral, makanan
ringan, kopi, minuman lain, serta berbagai kebutuhan konsumen. Susu UHT harus
bersaing mendapatkan bagian dari anggaran tersebut.Dalam bahasa pemasaran,
mereka bisa menyebut persoalan itu sebagai share of wallet apabila yang
dimaksud adalah bagian pengeluaran pembeli yang diperoleh suatu merek atau
pemasok. Namun, untuk kasus ini, istilah yang lebih tepat adalah outlet
purchasing budget allocation atau alokasi anggaran belanja outlet. Jika
yang dianalisis adalah bagian belanja outlet yang berhasil diperoleh perusahaan
dibandingkan seluruh belanja outlet dalam kategori terkait, konsep share of
wallet dapat membantu menjelaskan persaingan tersebut.
"Jadi,
Bu," kata Yanto, "kita bukan hanya berebut perhatian konsumen. Kita
juga berebut bagian dari uang belanja toko."
"Tepat."
"Kalau datang terlambat, uangnya
sudah diambil produk lain."
"Bisa begitu. Tapi jangan
menyalahkan produk lain. Mereka mungkin memang dibutuhkan toko pada waktu
itu."
Yanto mengangguk.
Rianti menambahkan,
"Tugas kita bukan memaksa toko membeli susu kita. Tugas kita menemukan
kapan kebutuhan mereka muncul, berapa jumlah yang masuk akal, dan bagaimana
membuat produk kita layak menjadi pilihan."
Yanto tersenyum.
"Bu, kalau begini, saya mulai
paham kenapa Ibu mengajak saya ke lapangan."
"Kenapa?"
"Karena kalau hanya melihat
laporan, kita tahu berapa uang yang tidak masuk. Tetapi kalau berbicara dengan
pemilik toko, kita bisa tahu mengapa uang itu tidak masuk."
Rianti terdiam.
Kalimat itu terdengar seperti sesuatu yang bisa ia tulis di buku
catatannya.
Ia segera menuliskannya.
Pukul 08.20:
Percobaan Kedua
Keesokan harinya, Rianti datang ke kantor lebih
pagi. Ia memeriksa daftar stok, memastikan produk yang akan dibawa mempunyai
sisa umur simpan yang memadai untuk jalur penjualan tersebut, dan meninjau
kembali jumlah barang yang tersedia. Ia tidak ingin
kesalahan dalam mengelola stok diselesaikan dengan menciptakan masalah baru.
Produk yang lebih
dahulu kedaluwarsa harus diprioritaskan untuk dijual secara normal selama masih
memenuhi ketentuan mutu dan persyaratan pelanggan. Namun, penawaran tetap harus
mengikuti kebutuhan outlet dan kebijakan perusahaan.
Setelah semuanya siap, ia menemui
Yanto.
"Kita berangkat sekarang."
Yanto melihat jam.
"Bu, saya belum sarapan."
"Di perjalanan kita berhenti."
"Kalau begitu saya siap."
Mereka berangkat
menuju rest area. Kali ini Rianti tidak membawa target bahwa setiap toko harus
membeli. Ia membawa pertanyaan yang
sudah di list sebelumnya seperti pertanyaan skripsi analisa kualitatif yang diajarkan
sewaktu kuliah.
Jam berapa toko mulai berbelanja?
Produk apa yang paling cepat bergerak?
Kapan pemasok lain datang?
Berapa jumlah stok yang masih
tersedia?
Dan, yang paling penting, apa yang
membuat sebuah toko memutuskan untuk membeli pada hari itu?
Mereka tiba menjelang pukul 08.20.
Rianti turun dari mobil.
"Yanto, hari ini kita tidak boleh terburu-buru menyimpulkan."
"Siap, Bu."
"Kalau ada toko yang menolak, kita tanyakan alasannya dengan
sopan."
"Siap."
"Kalau uang belanjanya belum tersedia, kita catat."
"Siap."
"Kalau stoknya masih banyak, kita jangan memaksa."
Yanto mengangkat tangan.
"Bu, boleh saya mengajukan satu permohonan?"
"Apa?"
"Kalau nanti ada yang membeli, saya boleh tersenyum?"
Rianti tertawa.
"Boleh. Asal jangan sampai senyumnya lebih besar daripada karton yang
terjual."
Mereka mulai mengunjungi toko-toko.
Pada toko pertama, pemiliknya sedang memeriksa daftar belanja.
Yanto menyapa dan memperkenalkan kembali produk susu UHT yang mereka bawa.
"Pak, kemarin kami sempat bertemu. Kami datang lagi
untuk melihat apakah ada kebutuhan stok susu hari ini."
Pemilik toko menatapnya.
"Oh, Mas yang kemarin datang
sore?"
"Betul, Pak."
"Kalau kemarin saya belum bisa
membeli. Sekarang saya sedang menyusun belanja."
Yanto tidak langsung menawarkan banyak
karton.
"Baik, Pak. Stok yang ada
sekarang kira-kira cukup untuk berapa hari?"
Pemilik toko memeriksa catatannya.
"Kalau yang ini, masih ada
beberapa karton. Tapi merek tertentu cepat habis saat akhir pekan."
Rianti ikut berbicara. "Kalau
boleh tahu, produk yang paling cepat bergerak itu ukuran berapa, Pak?"
Pemilik toko
menjawab. Mereka kemudian membicarakan pola penjualan, jumlah stok, dan jadwal
pengiriman. Ternyata, pemilik toko tidak membutuhkan jumlah besar. Ia hanya
memerlukan tambahan stok yang masuk akal untuk mengantisipasi permintaan.
Yanto menghitung jumlah yang sesuai
dengan kebutuhan dan kemampuan belanja toko. Tidak berlebihan. Tidak pula
terlalu sedikit hingga tidak berguna. Pemilik toko akhirnya memesan sejumlah
karton. Yanto mencatat
pesanan dengan teliti.
Ketika keluar dari toko, ia menoleh kepada Rianti,"Bu, ini
berhasil."
"Jangan terlalu cepat menyimpulkan. Kita baru punya satu
pesanan." Balas rianti
Yanto mengangguk.
"Baik. Saya akan menunda kebahagiaan sampai ada pesanan kedua."
Mereka melanjutkan perjalanan. Toko
kedua memberikan respons serupa. Pemiliknya mempunyai anggaran belanja yang
baru tersedia pagi itu dan sedang menentukan produk mana yang perlu ditambah. Setelah
memeriksa stok yang masih ada, pemilik toko memesan dalam jumlah yang wajar.
Toko ketiga belum membeli karena
persediaannya masih mencukupi.
Rianti tidak memaksa. Ia mencatat
kapan toko itu kemungkinan membutuhkan pengisian ulang dan meminta izin untuk
melakukan kunjungan berikutnya pada waktu yang disepakati.
Di toko keempat, Yanto mendapatkan pesanan lagi.
Di toko kelima, pemiliknya meminta informasi lebih lanjut tentang harga dan
ketentuan pengiriman.
Rianti melihat jam tangannya.
Pukul 09.35. Mereka belum selesai berkeliling,
tetapi hasilnya sudah jauh lebih baik daripada kunjungan hari sebelumnya. Bukan
karena produknya berubah. Bukan karena harga mendadak turun. Bukan pula karena
salesman tiba-tiba menjadi orang yang berbeda. Yang berubah adalah
cara mereka membaca situasi.
Ketika Teori Bertemu dengan Warung
Menjelang siang, mereka berhenti
sejenak untuk merapikan catatan penjualan.
Rianti membuka kembali buku kecilnya.
Di sana tertulis beberapa kata yang selama ini ia kenal sebagai bagian dari
teori pemasaran.
Customer insight.
Call productivity.
Outlet potential.
Purchase timing.
Availability.
Marketing execution
effectiveness.
Ia memandang daftar tersebut.
Selama ini, ia
menganggap efektivitas eksekusi pemasaran sebagai kemampuan menerjemahkan
strategi perusahaan menjadi tindakan nyata di lapangan. Namun, pengalaman dua
hari terakhir memberinya pemahaman yang lebih konkret. Strategi yang bagus
belum tentu menghasilkan penjualan apabila pelaksanaannya tidak sesuai dengan
kondisi pelanggan.
Salesman bisa
mengunjungi banyak toko, tetapi hasilnya belum tentu tinggi jika toko-toko
tersebut belum siap membeli. Sebaliknya, jumlah kunjungan yang lebih sedikit
bisa menghasilkan penjualan lebih baik apabila outlet yang dikunjungi mempunyai
kebutuhan nyata dan waktunya tepat. Tetapi Rianti juga tahu bahwa satu kejadian
tidak cukup untuk membuktikan pola secara ilmiah. Mereka harus mengumpulkan
data lebih banyak.
Mereka perlu
membandingkan hasil kunjungan pagi dan sore selama beberapa minggu, mengontrol
perbedaan karakteristik outlet, memperhatikan hari kerja dan akhir pekan, serta
memeriksa apakah peningkatan penjualan benar-benar berasal dari perubahan waktu
kunjungan.
Jika tidak, mereka
bisa saja mengira bahwa waktu kunjungan merupakan penyebab utama, padahal ada
faktor lain yang bekerja bersamaan. Rianti menuliskan rancangan sederhana:
- Waktu kunjungan.
- Jumlah outlet dikunjungi.
- Jumlah outlet yang melakukan
pemesanan.
- Nilai pesanan rata-rata.
- Jumlah karton terjual.
- Ketersediaan stok di outlet.
- Status pembayaran atau kesiapan
anggaran belanja.
- Penjualan ulang pada kunjungan
berikutnya.
Ia juga ingin memantau strike rate,
yaitu proporsi kunjungan yang menghasilkan pesanan, dan average order value,
yaitu nilai rata-rata pesanan.
Dengan indikator
tersebut, mereka dapat mengetahui apakah kunjungan pagi benar-benar
meningkatkan produktivitas penjualan atau hanya kebetulan pada dua hari
pertama.
Yanto melirik catatan itu. "Bu,
banyak sekali yang harus dicatat."
"Kalau kita ingin memahami masalahnya, kita harus punya data."
Rianti menerangkan.
"Kalau begitu, saya akan membawa
buku yang lebih besar." Balas Yanto
"Kenapa?"
"Supaya kalau target belum
tercapai, saya punya tempat untuk menuliskan semua alasan."
Rianti menatapnya.
"Yanto!"
Yanto tertawa. "Baik, Bu. Saya bercanda. Saya akan mencatat hasilnya,
bukan mengumpulkan alasan."
Rianti ikut tertawa.
Lalu ia kembali melihat catatannya. Ada satu hal yang
mulai ia pahami dengan sangat jelas.
Marketing Execution Effectiveness bukan sekadar soal
seberapa rajin seseorang menjalankan program. Variabel itu juga menyangkut
kualitas pelaksanaan, ketepatan sasaran, koordinasi, pemantauan, dan kemampuan
memperbaiki tindakan berdasarkan hasil di lapangan. Perusahaan bisa mempunyai
produk bagus dan strategi yang masuk akal.
Tetapi strategi itu
baru memberikan hasil ketika dilaksanakan dengan benar, pada pelanggan yang
tepat, dalam kondisi yang memungkinkan.
Kegelisahan Konsumen dan Godaan Membeli
Sore harinya,
setelah menyelesaikan kunjungan, Rianti dan Yanto mengamati aktivitas konsumen
di sekitar rest area. Sebagian pengunjung baru turun dari mobil. Ada yang
berjalan menuju toilet. Ada yang mencari makanan. Ada yang membeli kopi sebelum
melanjutkan perjalanan. Ada pula keluarga yang berhenti untuk beristirahat
setelah menempuh perjalanan cukup jauh. Rianti memperhatikan bahwa banyak orang
membeli sesuatu yang sebelumnya tidak mereka rencanakan secara khusus.
Seorang pengemudi membeli air mineral.
Seorang ibu membeli camilan untuk anaknya. Seorang penumpang membeli minuman
karena merasa haus setelah perjalanan panjang. "Bu," kata Yanto,
"kalau orang berhenti di rest area, mereka sering membeli sesuatu yang
tadinya tidak ada di daftar belanja."
"Benar. Itu bisa menjadi
pembelian impulsif, tetapi tidak semua pembelian di rest area termasuk
impulsif."
Rianti menjelaskan
bahwa sebagian pembelian mungkin memang tidak direncanakan. Sebagian lainnya
merupakan respons terhadap kebutuhan yang muncul selama perjalanan. Rasa haus,
waktu yang terbatas, kemudahan akses, penempatan produk, promosi, dan kebiasaan
konsumen dapat memengaruhi keputusan pembelian.
Ia juga teringat
sejumlah penelitian tentang perilaku pembelian impulsif.
Salah satunya adalah
artikel Impulse Buying: A Meta-Analytic Review yang diterbitkan dalam Journal
of the Academy of Marketing Science pada 2020. Kajian tersebut
menggabungkan hasil 231 sampel dengan lebih dari 75.000 konsumen. Penelitian
itu menunjukkan bahwa pembelian impulsif dipengaruhi oleh beragam faktor,
termasuk kecenderungan individu, sumber daya konsumen seperti waktu dan uang,
serta stimulus pemasaran.
Rianti juga pernah
membaca penelitian Kaniawati tentang pola pembelian impulsif di toko serba ada
di Indonesia, yang terbit dalam International Journal of Business and
Society pada 2024. Penelitian tersebut menyoroti peran kondisi emosional,
kemampuan finansial, dan faktor situasional dalam perilaku pembelian impulsif.
"Jadi, orang
yang sedang gelisah pasti membeli lebih banyak?" tanya Yanto.
"Tidak
begitu," jawab Rianti.
"Kenapa?"
"Karena perilaku konsumen tidak sesederhana
itu. Kecemasan atau suasana hati negatif bisa berhubungan dengan pembelian
impulsif dalam kondisi tertentu, tetapi tidak selalu meningkatkan pembelian. Orang yang cemas juga
bisa menahan belanja, menghindari keputusan, atau memilih menyimpan uang."
Yanto mengangguk. "Berarti kalau orang panik, kita tidak boleh
langsung menyimpulkan dia akan membeli susu."
"Tepat."
Rianti melanjutkan, "Kita harus memahami kebutuhan konsumen, bukan
memanfaatkan kegelisahan mereka."
Ia kemudian menunjuk seorang keluarga
yang sedang membeli beberapa minuman.
"Mereka mungkin membeli karena
haus. Mungkin juga karena anaknya meminta. Mungkin mereka memang sudah
berencana membeli minuman di tempat istirahat. Kita tidak tahu tanpa informasi
lebih lanjut."
Yanto tersenyum.
"Kalau anak saya meminta susu,
Bu, biasanya saya membeli."
"Karena apa?"
"Karena kalau tidak, perjalanan
berikutnya berubah menjadi seminar tentang mengapa ayah tidak sayang
anak."
Rianti tertawa.
"Kalau begitu, kamu bukan membeli karena impulsif. Kamu membeli karena ingin perjalanan tetap damai."
"Betul, Bu. Saya melakukan peacekeeping
operation."
Mereka tertawa bersama.
Namun, Rianti tetap mencatat satu gagasan penting.
Rest area menawarkan kesempatan untuk menjangkau
konsumen dalam situasi perjalanan, tetapi kesempatan itu harus diterjemahkan
menjadi strategi distribusi yang sesuai. Produk perlu tersedia, penempatannya
perlu mendukung kemudahan pembelian, dan persediaan outlet harus mengikuti
permintaan yang benar-benar ada.
Memahami situasi konsumen bukan berarti memanipulasi emosi mereka. Memahami
situasi konsumen berarti memastikan produk yang relevan tersedia ketika mereka
membutuhkannya.
Mengapa Produk Pesaing Selalu Ada?
Beberapa hari kemudian, Rianti kembali meninjau
hasil kunjungan mereka. Ia membandingkan data sebelum dan
sesudah perubahan waktu kunjungan. Pesanan dari beberapa outlet rest area mulai
tercatat. Namun, ia belum mau menyebut percobaan itu sebagai keberhasilan
besar. Ia membutuhkan lebih banyak data.
Ia juga ingin
memastikan bahwa pesanan pertama bukan sekadar pembelian awal yang tidak
berulang. Sebuah produk bisa masuk ke outlet, tetapi belum tentu terjual dengan
cepat.
Sebuah produk bisa terjual, tetapi
belum tentu menghasilkan pemesanan ulang. Karena itu, ia meminta Yanto memeriksa stok dan
penjualan di outlet pada kunjungan berikutnya.
"Yanto, kalau kita sudah berhasil
memasukkan barang, apakah tugas kita selesai?"
Yanto menjawab cepat.
"Belum, Bu."
"Kenapa?"
"Kita harus memastikan barangnya
bergerak."
"Bagus. Lalu?"
"Kalau bergerak, kita lihat
berapa cepat. Kalau stoknya mulai menipis, kita sesuaikan pengisian ulang. Kalau tidak bergerak, kita cari tahu
penyebabnya."
Rianti tersenyum. "Bagus sekali."
Yanto mengangkat dagu. "Terima kasih, Bu. Saya sudah naik kelas."
"Naik kelas dari apa?"
"Dari salesman yang bertanya
kapan toko bisa membeli menjadi salesman yang bertanya mengapa toko
membeli." Celetuk Yanto
polos
Rianti tertawa. Namun, di balik kelakar itu, ia melihat perubahan cara
berpikir.
Yanto mulai memahami bahwa penjualan bukan hanya
tentang menyampaikan penawaran. Penjualan juga tentang mengumpulkan informasi,
memahami kebutuhan, menentukan prioritas, dan menjaga hubungan dengan
pelanggan.
Rianti kemudian menjelaskan bahwa keunggulan market
leader mungkin berasal dari kombinasi berbagai faktor. Mereka bisa
mempunyai cakupan distribusi yang luas, sistem pemesanan yang baik,
ketersediaan produk yang konsisten, dukungan promosi, hubungan dengan outlet,
serta pengelolaan persediaan yang efektif. Tetapi tanpa data pembanding, mereka
tidak boleh menganggap semua keunggulan tersebut pasti dimiliki pesaing. Yang
dapat mereka lakukan adalah mempelajari prinsip yang relevan dan mengujinya
pada bisnis sendiri. Rianti menulis sebuah kalimat di papan kecil dekat
mejanya:
"Jangan hanya meniru keberadaan produk pesaing. Pelajari sistem yang membuat produk itu terus tersedia."
Ia kemudian membagi
pekerjaan tim menjadi beberapa fokus. Pertama, memetakan outlet berdasarkan
potensi dan pola permintaan. Kedua, meninjau kembali jadwal kunjungan salesman.
Ketiga, memastikan jumlah produk yang dibawa sesuai kebutuhan dan kemampuan
outlet. Keempat, memantau umur simpan persediaan dengan prinsip FEFO, yaitu First
Expired, First Out, selama produk memenuhi persyaratan mutu dan kelayakan
jual. Kelima, memeriksa hasil penjualan ulang agar keberhasilan tidak hanya
diukur dari pengiriman pertama. Keenam, mengumpulkan data untuk mengetahui
apakah perubahan cara kerja benar-benar meningkatkan kinerja.
Bagi Rianti, inilah perbedaan antara sekadar menambah aktivitas dengan
memperbaiki efektivitas. Aktivitas bisa bertambah tanpa hasil yang sepadan.
Namun, eksekusi yang efektif berusaha memastikan bahwa setiap aktivitas
mempunyai alasan, sasaran, dan ukuran keberhasilan yang jelas.
Ketika Target Akhirnya Bernapas Lega
Dua minggu berlalu. Rianti kembali duduk di depan
komputer yang sama awalnya sebelu, ke lapangan laporan penjualan bulan berjalan
masih menunjukkan sejumlah tantangan. Beberapa wilayah
belum memenuhi target. Ada outlet yang penjualannya lambat. Ada pula toko yang
belum membutuhkan pemesanan ulang. Tetapi kini, ia mempunyai informasi yang
lebih baik untuk mengambil keputusan. Timnya mulai memahami bahwa tidak semua
outlet harus diperlakukan dengan cara yang sama. Ada outlet yang membutuhkan
kunjungan rutin. Ada outlet yang lebih cocok dikunjungi berdasarkan pola
belanjanya. Ada outlet yang perlu ditingkatkan ketersediaan produknya. Ada pula
outlet yang sebaiknya tidak diberi tambahan stok sampai penjualan yang ada
bergerak lebih baik.
Hasil dari rest area
juga mulai terlihat. Beberapa outlet melakukan pemesanan ulang setelah stoknya
menipis. Yanto mencatat waktu kunjungan, jumlah pesanan, dan kondisi
persediaan. Rianti kemudian membandingkan hasil tersebut dengan data
sebelumnya. Ia belum dapat menyatakan bahwa kunjungan pagi selalu lebih efektif
daripada kunjungan sore. Untuk membuktikannya, ia masih memerlukan pengamatan
yang lebih panjang dan pembandingan yang lebih sistematis. Namun, ia telah
menemukan sesuatu yang berharga. Pada outlet tertentu, waktu kunjungan
mempunyai hubungan erat dengan kesiapan pelanggan melakukan pembelian. Dan
selama ini, timnya belum cukup memperhatikan faktor tersebut.
Pada akhir pekan
kedua, Rianti menerima laporan bahwa beberapa pesanan dari wilayah rest area
telah diproses dengan baik. Stok yang dikirim sesuai kebutuhan outlet,
sementara persediaan yang lebih tua di gudang mulai bergerak melalui jalur
penjualan yang tepat, lalu a bersandar di kursi, Untuk pertama kalinya dalam
beberapa hari, ia merasa bisa bernapas lebih lega.Bukan karena semua masalah
sudah selesai. Bukan pula karena seluruh target telah tercapai.
Ia merasa lega
karena timnya tidak lagi sekadar menebak. Mereka mempunyai hipotesis, melakukan
pengamatan, menguji perubahan, dan mulai belajar dari hasilnya.Pintu ruangan
terbuka.
Yanto masuk sambil membawa laporan. "Bu,
saya punya kabar."
Rianti menoleh. "Kalau kabarnya tentang target,
silakan."
"Beberapa toko sudah melakukan
pemesanan ulang."
Rianti tersenyum lebar. "Bagus!
Berapa jumlahnya?"
Yanto menyebutkan angka yang tercatat
dalam laporan.
Rianti memeriksa data tersebut, memastikan tidak ada pesanan yang terhitung
ganda.
"Ini bagus, Yanto. Sekarang kita
harus memastikan penjualannya sehat dan berulang."
Yanto mengangguk.
"Siap, Bu."
Rianti menutup laporan. Ia merasakan kegembiraan
yang berbeda dari perasaan ketika menerima pujian di rapat. Ada kelegaan karena
masalah yang semula terasa kabur kini mulai dapat dipahami. Ada kepuasan karena
sebuah keputusan kecil di lapangan memberikan petunjuk untuk memperbaiki cara
kerja. Dan ada semangat untuk melanjutkan percobaan berikutnya.
Ia tersenyum.Ternyata, memecahkan persoalan lapangan memang menyenangkan.
Dopamin, Ketegangan, dan Senyum
Seorang Supervisor
Ketika rapat evaluasi selesai, Rianti berjalan keluar dari kantor. Udara
sore terasa lebih sejuk.
Ia teringat bagaimana dua minggu sebelumnya dirinya duduk di depan
komputer, memandangi stok yang menumpuk dan target yang belum tercapai. Saat
itu, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.
Bagaimana jika produk tidak terjual
tepat waktu?
Bagaimana jika stok harus dihapuskan?
Bagaimana jika timnya tidak mampu
mengejar target?
Bagaimana jika ia tidak menemukan
penyebab masalah?
Ketidakpastian itu membuatnya tegang.
Namun, ketika ia
mulai turun ke lapangan, berbicara dengan pemilik toko, dan menguji cara kerja
yang baru, persoalan tersebut perlahan menjadi lebih jelas. Ia mulai melihat
apa yang bisa dilakukan dan apa yang masih perlu diperbaiki.
Rianti kemudian
memahami mengapa pekerjaan memecahkan masalah dapat terasa begitu memuaskan. Ketika
seseorang menghadapi tantangan yang bermakna, membuat kemajuan, dan berhasil
mencapai tujuan, sistem penghargaan otak dapat ikut terlibat.
Salah satu unsur
yang berperan adalah dopamin, neurotransmiter yang terlibat dalam pembelajaran,
motivasi, dan pemrosesan penghargaan. Dopamin bukan sekadar hormon kebahagiaan
yang muncul setiap kali seseorang tersenyum. Perannya lebih kompleks, termasuk
membantu otak mempelajari hubungan antara tindakan dan hasil yang diharapkan.
Dalam situasi Rianti, prosesnya mungkin berlangsung
seperti ini. Pertama, ia menghadapi masalah yang belum mempunyai jawaban jelas.
Kedua, ia mengumpulkan informasi dari lapangan. Ketiga, ia menemukan pola yang
masuk akal. Keempat, ia mencoba strategi baru. Kelima, ia melihat tanda-tanda
kemajuan melalui pesanan dan pemesanan ulang. Kemajuan itu
memberikan rasa pencapaian dan dapat memperkuat motivasinya untuk terus
belajar.
Rasa lega setelah
ketegangan berkurang juga melibatkan banyak proses psikologis dan fisiologis.
Namun, tidak tepat menyimpulkan bahwa satu hormon tertentu sendirian
menyebabkan seluruh perasaan bahagia tersebut.
Rianti tidak
memikirkan semua itu sebagai rumus biologis yang pasti. Ia hanya menyadari
bahwa pekerjaan yang semula membuatnya tertekan kini memberikan kepuasan karena
ia bisa melihat hubungan antara masalah, tindakan, dan hasil.
"Bu, kok senyum-senyum
sendiri?" tanya Yanto yang kebetulan melintas.
Rianti menoleh.
"Saya sedang memikirkan
sesuatu."
"Target?"
"Bukan."
"Stok?"
"Bukan."
Yanto mengangguk perlahan.
"Kalau begitu, saya tahu."
"Apa?"
"Ibu sedang memikirkan betapa
hebatnya salesman bernama Yanto."
Rianti tertawa.
"Yanto, kalau kamu terus seperti
ini, saya akan menugaskanmu membuat laporan tentang hubungan antara humor dan
produktivitas."
Yanto mengangkat tangan.
"Siap, Bu! Saya yakin hasil
penelitiannya akan sangat menggembirakan."
"Kenapa?"
"Karena respondennya saya sendiri."
Rianti tertawa lagi.
Dan kali ini, tawanya terasa ringan.
Kantor Bukan Satu-satunya Tempat untuk Berpikir
Beberapa hari kemudian, Rianti memimpin rapat tim penjualan. Ia tidak membuka rapat dengan pertanyaan tentang siapa yang paling jauh
tertinggal dari target. Ia memulai dengan satu pertanyaan sederhana. "Menurut
kalian, apa yang membuat kunjungan salesman menghasilkan pesanan?"
Seorang salesman menjawab,
"Hubungan baik dengan pelanggan."
Yang lain menjawab, "Harga yang
kompetitif."
Seorang supervisor lain menambahkan,
"Produk tersedia ketika pelanggan membutuhkan."
Rianti mengangguk."Semua itu penting. Tetapi apa yang terjadi jika
kita mempunyai hubungan baik, harga kompetitif, dan produk tersedia, sementara
kita datang ketika pelanggan sudah menghabiskan anggaran belanjanya?"
Ruangan menjadi hening.
Yanto mengangkat tangan.
"Kita harus kembali lagi pada waktu yang lebih tepat, Bu."
"Benar. Tetapi kita juga perlu memastikan bahwa kunjungan berikutnya
memang mempunyai alasan yang jelas."
Ketika Meeting setiap
senin pagi, Rianti menjelaskan pengalaman mereka di rest area. Ia tidak
mengatakan bahwa semua outlet harus dikunjungi pukul 08.20. Itu akan menjadi
kesimpulan yang keliru. Pukul 08.20 hanyalah waktu ketika mereka menemukan
peluang pada outlet-outlet yang diamati. Outlet lain mungkin mempunyai
pola berbeda.
Toko tradisional di suatu wilayah mungkin lebih siap
berbelanja pada pagi hari. Outlet lain mungkin baru melakukan pemesanan setelah
menerima pasokan atau memperoleh arus kas pada waktu tertentu. Yang penting bukan menghafal satu jam. Yang penting adalah mempelajari
pola pembelian pelanggan.
Rianti kemudian menuliskan lima pertanyaan di papan.
- Apakah kita mengunjungi outlet
yang mempunyai potensi?
- Apakah kita datang ketika outlet
siap melakukan pembelian?
- Apakah produk yang ditawarkan
sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan outlet?
- Apakah kita memantau hasil
penjualan dan ketersediaan stok setelah pengiriman?
- Apakah kita menggunakan informasi
lapangan untuk memperbaiki rencana kunjungan berikutnya?
"Kalau lima pertanyaan ini kita
jalankan secara konsisten, kita akan mempunyai dasar yang lebih baik untuk
meningkatkan efektivitas penjualan," katanya.
Ia kemudian
menambahkan bahwa hasilnya tetap harus diukur. Tim harus memantau produktivitas
kunjungan, rasio kunjungan yang menghasilkan pesanan, nilai pesanan rata-rata,
ketersediaan produk, penjualan ulang, umur simpan stok, dan pertumbuhan
penjualan. Dengan begitu,
mereka tidak hanya merasa bahwa strategi baru berhasil.
Mereka dapat menguji apakah strategi tersebut
benar-benar menghasilkan perbaikan.
Rianti memandang seluruh anggota tim. "Saya
ingin kalian memahami satu hal. Saya tidak meminta kalian bekerja lebih lama
hanya supaya terlihat sibuk. Saya ingin kita bekerja dengan lebih tepat."
Ia berhenti sejenak.
"Kalau ada masalah di lapangan, jangan langsung menyalahkan produk,
pelanggan, harga, atau salesman. Cari tahu apa yang sebenarnya terjadi."
Ia tersenyum, lalu mengatakan "Kadang-kadang,
jawaban yang kita cari selama berjam-jam di kantor justru menunggu kita di
sebuah warung kecil."
Yanto mengangguk. "Betul, Bu.
Apalagi kalau warungnya punya kopi gratis."
Rianti menutup wajahnya dengan satu
tangan. "Yanto, saya sedang menyampaikan pesan kepemimpinan."
"Siap, Bu. Saya sedang memberikan
contoh motivasi."
Ruangan tertawa.
Rapat yang awalnya serius berubah
menjadi lebih hangat.
Tetapi pesan utamanya tetap tinggal.
Sebuah Kesimpulan di Perjalanan Pulang
Sore itu, Rianti kembali duduk di kursi penumpang
mobil kanvas bersama Yanto. Mereka baru saja menyelesaikan kunjungan ke
beberapa outlet yang sebelumnya tidak masuk dalam prioritas utama. Rianti
membuka catatan penjualan. Ada toko yang memesan. Ada toko yang belum
membutuhkan produk. Ada toko yang meminta dikunjungi kembali pada waktu
tertentu.
Tidak semua kunjungan menghasilkan pesanan, tetapi
setiap kunjungan yang dilakukan dengan baik memberikan informasi untuk
menentukan langkah berikutnya.
Rianti memandang jalan di depan. Ia menyadari bahwa tugas seorang sales supervisor bukan hanya memastikan
salesman mencapai target. Ia juga harus membantu tim memahami mengapa target
dapat dicapai atau tidak tercapai. Ia
perlu menghubungkan strategi perusahaan dengan kenyataan pasar.
Ia perlu memahami
bagaimana distributor mengelola persediaan, bagaimana toko mengatur uang
belanja, bagaimana konsumen mengambil keputusan, dan bagaimana semua itu
memengaruhi kinerja penjualan. Ia juga harus berani menguji asumsi. Jika selama
ini tim menganggap semakin banyak kunjungan berarti semakin besar penjualan,
mereka harus memeriksa apakah data benar-benar mendukung anggapan tersebut.
Jika mereka menduga
kunjungan pagi lebih efektif, mereka harus mengujinya. Jika mereka melihat
produk pesaing selalu tersedia, mereka harus mempelajari faktor yang membuat
distribusi pesaing berjalan dengan baik, bukan sekadar meniru aktivitas yang
terlihat.
Rianti kemudian menatap Yanto. b"Yanto,
menurut kamu, apa pelajaran terbesar dari perjalanan kita?"
Yanto berpikir agak lama. "Kita
harus tahu kapan toko punya uang, Bu."
Rianti tertawa.
"Itu salah satunya."
"Terus, kita jangan membawa
barang terlalu banyak ke toko yang tidak membutuhkan."
"Bagus."
"Dan jangan datang ke rest area
hanya untuk makan."
Rianti mengangguk.
"Bagus sekali."
Yanto tersenyum bangga.
"Lalu, Bu, satu lagi."
"Apa?"
"Kalau mau belajar marketing,
jangan hanya membaca buku. Sesekali ikut salesman."
Rianti terdiam sejenak.
Kemudian ia mengangguk.
"Itu juga benar."
Ia memandang jalan yang semakin ramai.
Dalam pikirannya, ia merumuskan
kembali pelajaran yang akan ia bawa ke rapat berikutnya.
Marketing Execution
Effectiveness adalah kemampuan menerjemahkan strategi menjadi tindakan lapangan
yang tepat sasaran, tepat waktu, terkoordinasi, terukur, dan terus diperbaiki
berdasarkan hasil.
Tidak cukup hanya mempunyai target. Tidak
cukup hanya mempunyai produk. Tidak cukup hanya mempunyai salesman.
Perusahaan harus
mampu menghubungkan seluruh sumber daya itu dengan kebutuhan nyata pelanggan. Dan terkadang, perbaikan besar dimulai dari
pengamatan kecil. Dari sebuah pertanyaan. Dari sebuah kunjungan. Dari seorang
pemilik toko yang berkata bahwa uang belanjanya sudah habis. Dari seorang
salesman bernama Yanto yang tanpa sengaja mengingatkan atasannya tentang
pentingnya waktu.
Dan dari seorang supervisor bernama Rianti yang
akhirnya berani meninggalkan kursi kantornya untuk mencari jawaban di lapangan.
Mobil mereka melaju meninggalkan rest
area. Di belakang, deretan toko mulai dipenuhi pengunjung yang hendak
melanjutkan perjalanan.
Rianti tersenyum.
Target masih harus dikejar.
Stok masih harus dikendalikan.
Outlet masih harus dipantau.
Pekerjaan belum selesai.
Namun, kini ia tahu bahwa ia tidak
harus menyelesaikan semuanya dengan duduk lebih lama di depan komputer.
Kadang-kadang, jalan menuju
pertumbuhan justru ditemukan ketika seseorang berani keluar dari ruangannya,
mengamati kenyataan, dan mencoba memahami masalah dari sudut pandang pelanggan.
Ia menoleh kepada Yanto.
"Besok kita turun lagi, ya."
Yanto langsung menatapnya.
"Ke rest area lagi, Bu?"
"Belum tentu. Kita lihat
data dan kebutuhan wilayah."
Yanto mengangguk.
"Siap, Bu."
Lalu ia menambahkan dengan wajah
serius,
"Tapi kalau boleh memilih, saya
usul tempat yang ada kopinya."
Rianti tertawa.
"Baik. Asalkan kopinya tidak
masuk laporan penjualan."
Yanto tersenyum lebar.
"Tenang, Bu. Kopi itu masuk
laporan kebahagiaan."
Dan mobil mereka
terus melaju, membawa pulang bukan hanya pesanan susu UHT, melainkan juga
sebuah pelajaran tentang pekerjaan, manusia, dan seni menemukan jawaban di
lapangan.
Tamat


Tidak ada komentar:
Posting Komentar